Wajah istri Chrisye, G.F. Damaiyanti Noor, 54, nampak lunglai. Namun semangatnya masih terli-hat. "Pedih, hatiku ada banyak telpon menanyakan Chrisye.
Bahkan ada yang bertanya, ’dengar-dengar Chrisye sudah nggak ada’?” ungkap Yanti Noor. Kepada Witri Suatri dari WI, Yanti menuturkan kondisi Chrisye terakhir.
Susah Makan
Kondisi Chrisye saat ini memang memprihatinkan. Namun, dia sudah mau makan kok. Walau masih sulit sekali. Untuk makan satu suap makanan cairan saja. Susah payah. Aku sampai stres. Tapi aku tak boleh menyerah. Aku harus memutar otak supaya Chrisye mau makan.
“Chris, please deh makan dong. Ini untuk kepentingan kamu,” kataku waktu itu.
Namun Chrisye tetap tak mau makan. Wajahnya dingin, kepalanya menggeleng lemah.
“Ayo dong, Chris. Tiga sendok saja,” kataku.
Akhirnya Chrisye mau makan. Walau sangat lambat. Namun setelah sendokan ketiga. Dia tak lagi mau makan.
“Ayo dong, Chris,” kataku.
“Kan cuma 3 sendok,” katanya.
Akhirnya, aku mengalah. Namun tiap tiga jam . Aku kembali berjuang menyuapinya. Dia cuma mau makan 3 sendok. Akhir-akhir ini Chrisye hanya mau disuapi olehku. Beberapa waktu lalu, sepulang dikemoterapi di Singapura, Chrisye masih mau disuapi anak-anak. Sekarang keinginannya untuk makan hilang sama sekali. Dia sudah muak dan stres melihat makanannya yang nggak ada enak-enaknya itu. Bayangkan selama setahun penuh, dia harus makan sayuran dan buah segar. Tak ada satupun yang dimasak. Seperti, tomat, kecambah, pepaya, brokoli, alpukat, bit, bayam.
Aku dan anak-anak, juga makan makanan yang sama dengan Chrisye. Supaya dia juga mau makan. Kami tahu, tak enak makan-makanan itu. Apalagi Chrisye yang dalam keadaan sakit. Kami sendiri sampai enek. Setiap hari, makan makanan mentah. Namun, kami paksakan, agar Chrisye mau makan.
Melihat hal ini Chrisye bilang, “Kalian enak. Cuma di rumah ketika ada papa, makan makanan mentah. Nah kalau di luar rumah, kalian bisa makan yang enak-enak.” Memilih Alternatif
Maka itu ia sempat 2 minggu mogok makan. Sehingga kondisinya drop.
Maka itu, ia harus diinfus zat makanan. Setelah mogok makan, ia belum mau makan sayur mayur dan buah-buahan dalam porsi besar seperti dulu. Aku terpaksa memblendernya.
Selama setahun ini Chrisye tak lagi dikemo. Padahal dokter mengharuskan dikemo lagi. Namun karena dampak kemo yang lalu saja membuat Chrisye sangat menderita. Maka itu Chrisye memutuskan untuk tak melanjutkan pengobatan medis. Chrisye memilih alternatif. Walau begitu, ada dokter keluarga dan dokter gizi yang terus memantau kesehatannya.
Kemo yang lalu, membuat organ tubuh Chrisye tak bisa berfungsi normal. Ia tak bisa berjalan sendiri, suaranya juga hilang, dan yang paling menyedihkan kedua kakinya terasa terbakar.
Kami meminta tolong Master, pakar pengobatan chikung membimbingnya agar lebih optimis, religius. Seminggu 2 kali, setiap datang , ia menterapi Chrisye selama 2 jam. Chrisye mengatakan ia merasa ada dampaknya. Ia merasakan hidupnya mulai bangkit.
Di tengah kehilangan percayaan diri apakah Chrisye bisa berkarya dan tampil lagi. Tiba-tiba dia diminta menyanyi pada Mei 2006 lalu di Indosiar. Dengan duduk di kursi roda, Chrisye menyanyi lagi. Aku dan anak-anak menyaksikan ini dengan hujan air mata.
Bahkan dalam kondisinya yang lemah, Chrisye sangat bersemangat ngobrol dengan AE (Alberthiene Endah), penulis buku yang menulis tentang Chrisye. Mereka ngobrol sampai berjam-jam. Wawancara ini sepanjang bulan Mei hingga November 2006. Aku sendiri takjub melihat Chrisye mau ngomong tentang dirinya. Padahal, dia itu paling nggak suka ngomong tentang dirinya. Begitu buku Buku Chrisye, Sebuah Memoar Musikal itu jadi, Chrisye suka sekali melihat foto-foto yang ada di buku. Ternyata buku itu jadi salah satu terapi untuk Chrisye dia jadi lebih bersemangat hidup. Makannya makin lahap.
Walau dalam kondisi sakit Chrisye tetap seorang yang teliti. Di dekatnya harus ada tisu, dan air minum. Tiap hari yang dipikirkan hanya berkarya. Dia sering berkata, “Apa lagi ya yang bisa saya buat?” tanha padaku sambil mengatakan sampai nafas di ujung hidung, dia akan tetap berkarya.
Semangatnya untuk tetap hidup dan berkarya memang tinggi. Itu sebabnya ia melahap sayur mayur dan buah mentah selama setahun tanpa mengeluh. Ia yakin dengan cara itulah kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya mati.
Dokter pun takjub dengan semangat Chrisye. Kata dokter, Chrisye bertahan selama 3 tahun dengan kanker paru-paru stadium lanjut adalah keajaiban. Harusnya dia sudah tak kuat.
Kami tahu apa yang dimaksudkan dokter. Kami bersyukur Chrisye masih bisa bertahan. Bahkan Chrisye, juga aku dan anak-anak, berharap ada keajaiban lain. Chrisye sehat seperti dulu. Namun, kami tak mau muluk-muluk juga. Apa yang terjadi sekarang ini, sudah suatu rahmat yang luar biasa....
url sumber : http://www.tabloid-wanita-indonesia.com/901/kisahsejati.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar