
Akibat benturan di kepala, Asma Nadia, didera penyakit, jantung, paru-paru, tumor, bahkan gigi pun membusuk. Penderitaannya ini, justru menjadi pemacu Nadia menjadi novelis sukses hingga menghasilkan 32 buku best seller.
Di kawasan kumuh penjaringan, dekat keramaian pasar, danjuga lingkungan boker (tempat pelacuran), nampak sebuah ruangan 2x3 meter dipenuhi anak-anak yang asyik membaca. Ruangan itu bernama Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya – salah satu program Forum Lingkar Pena yang didirikan Asma Nadia). Tak jauh dari anak-anak, nampak Asma Nadia berdiri menatap anak-anak itu. Airmatanya menetes di pipi. Sebentar lagi Rumah Cahaya akan digusur. Di tengah kegelisahannya terhadap kondisi rumah baca tersebut, ia masih terus berusaha menggalang dana untuk dapat membeli lahan kecil agar anak-anak tak mampu itu bisa tetap membaca buku dengan tenang.
Sekilas, kehidupan Asma Nadia sebagai penulis buku yang sukses nampak sempurna. Menghasilkan 32 buku laris manis, salah satunya Catatan Hati Seorang Istri, yang terbit Mei 2007, dan tujuh kali cetak ulang, memiliki 2 orang anak, dan suami yang berkaris sebagai wartawan NHK Jepang, Namun siapa yang menduga, di kepala Asma, terdapat 3 tumor, bahkan sebelumnya 5 tumor telah diangkat. Gegar otak yang dialami, menyebabkan berbagai penyakit menggereogoti di tubuhnya.
Di antara riuh rendah anak-anak yang memenuhi Rumah Cahayanya, Asma Nadia mengurai kisah hidupnya pada Witri Suarti dari Tabloid Wanita Indonesia.
Ibuku Cinta Buku
Aku lahir 26 Maret 1972. Nama asliku Asmarani Rosalba, artinya mawar putih yang selalu membawa keharuman untuk siapapun. Kakakku Helvi Tiana Rosa, juga seorang penulis. Bapakku Amin Usman pencipta lagu. Ibuku Maria Eri Susanti.
Ketika kecil aku dipanggil Rani. Sejak kecil aku sudah dididik ibu untuk mencintai buku. Makanya sebelum masuk sekolah aku sudah bisa membaca dan menulis. Tak cuma aku, kakakku Helvi juga hobi membaca dan menulis.
Ketika aku usia 6 tahun aku sudah membuat puisi untuk kakakku tercinta Helvi: Kakakku manis sekali, Aku sayang padanya, Ia pun sayang padaku, kakakku sayang.
Ketika kecil, kami hidup pas-pasan. Bapak dan ibuku hidup mandiri di Jakarta. Mereka hijrah dari Medan. Padahal kehidupan di keluarga mereka sangat menjanjikan.
Meski hidup pas-pasan ibu sangat mencintai buku. Menurut dia, anak-anak harus dikenalkan pada buku sedini mungkin. Ibu membelikan kami buku-buku legenda, juga buku-buku agama. Padahal, penghasilan bapakku hanya cukup untuk hari ini saja. Untuk esok hari, bapak dan ibu tak tahu mau makan apa.
Dalam kondisi ini ibu masih suka memberi pada orang yang lebih susah. Ibu tak pernah menangis hidup kami yang pas-pasan. Tapi ibu akan melelehkan air mata jika mendengar atau melihat orang lain yang susah.
Di Jakarta, kami pindah dari kontrakan satu ke kontrakan yang lainnya. Selalu tinggal di daerah yang kumuh, dan rumah kontrakan sederhana, hanya ada dua ruang tempat tidur. Satu ruang tempat tidur aku dan Helvy, satu lagi untuk ibu bapakku dan adikku.
Ketika usiaku 7 tahun, kami pernah tinggal di pinggir rel kereta api di kawasan Gunung Sahari. Jika kereta api lewat, aku merasakan rumah kami bergetar.
Gegar Otak Akibat Mimpi Buruk
Suatu sore aku asyik membaca tentang surga, neraka, syetan, malaikat. Aku membaca di atas tempat tidur, hingga kemudian tertidur. Saat itu aku bermimpi buruk. Cerita buku itu menyusup ke dalam tidurku. Hingga aku mengalami ketakutan dan tanpa sadar aku menarik bantalku. Di saat melepaskan bantal dari kepala, kepalaku langsung terbentur pinggir tempat tidur yang terbuat dari besi. Keras sekali. Aku terbangun dan mengaduh. Kuusap kepalaku dan kulihat sedikit darah di tangan. Tiba-tiba, di saat yang sama aku merasakan perutku mual. Hueeeek..!, Aku kemudian muntah hingga tiga kali. Ibuku yang berada di kamar sebelah, segera menghampiri.
“Kenapa kamu Rani?”
Saat itu juga aku dibawa ke rumah sakit. Menjalani berbagai pemeriksaan.
Dokter menatap mataku, kemudian sekilas memandang ibu dan bapakku. Ia menghela nafas panjang.
“Maaf. Bidadari cantik, Asmarani Rosalba … gegar otak!” kata dokter.
Aku terbengong. Ibu dan bapakku membeku. Walau aku masih kecil aku sudah mengerti apa itu gegar otak.
“Sebaiknya Asmarani, ibu dan bapak lebih mendekatkan diri pada Tuhan, berdoa memohon gegar otak ini tak berpengaruh fatal,” kata dokter sambil menatapku dengan penuh kasih.
Aku cuma bisa meneteskan air mata. Namun, bibirku tersenyum, berusaha menerima takdir ini. Setelah itu, masih ada rentetan pemeriksaan dokter padaku.
Hasilnya membuat ibu bapakku menangis tersedu-sedu. Akibat dari benturan itu, aku mengalami kelainan otak bagian belakang. Jantungku pun kemudian bermasalah. Paru-paruku juga kotor, bahkan tiga belas gigiku membusuk dan tumbuh tak beraturan.
Mulut Dimasuki Selang
Aku cuma bisa pasrah dan berdoa. Ya Tuhan, beri aku kemampuan menerima cobaan ini. Aku sering mendengar ibuku berkata, kalau Tuhan tak akan memberikan cobaan, melebihi kemampuan hambanya. Aku sangat menyakini kata-kata ini. Aku sangat yakin aku mampu menjalani ini.
Aku yang semla ceria, sehat dan ramai. Mendadak menjadi gadis kecil yang memiliki banyak penyakit. Meski begitu, aku hadapi dengan senyum, senyum dan senyum. Doa, doa dan doa. Seperti yang selalu ibu ajarkan kepadaku.
Suatu hari, saat memeriksakan diri, dokter bilang padaku, kalau terdapat lima tumor di kepalaku. Tentu saja, lagi-lagi ini mengejutkan Ibu. Namunaku melihat, baaimana Ibu sedemikian tegarnya. Ia tetap mengurusku dengan baik dan rajin membawaku ke dokter. Aku sering tak mengerti, mengapa Ibu masih saja membawaku rutin ke dokter, padahal aku tahu keadaan kami sedang sudah.
Seperti anak kecil lainnya, aku sering jenuh, saat menunggu dipanggil dokter atau mengambil obat. Ibuku selalu bilang padaku,” sabar ya Ran, nanti pulang dari rumah sakit, kita beli buku bacaan.”
Kata-kata ini membuatku tak mengeluh lama selama di rumah sakit. Karena yang ada di otakku, betapa bahagianya mendapatkan buku baru di dekat terminal senin, buku bekas yang harganya murah.
Aku menjalani berbagai pengobatan termasuk mencabut 13 gigiku yang busuk dan tak beraturan. Mulutku dimasukkan selang, untuk mengeluarkan cairan kotor di paru-paruku.
Paru-paru kotor ini membuat aku sering batuk. Jantung yang tak beres membuat aku juga sering susah bernafas. Namun aku berusaha tegar dan tak cengeng merasakan penyakit ini.
Saat Pusing Menyerang
Perjuangan ibu tak hanya sekedar membawaku ke rumah sakit. Ibu juga sering tak makan siang, demi bisa membelikan aku buku. Hal itu membuatku terharu dan berjanji akan membuat ibu bangga. Aku harus menunjukkan diriku berprestasi. Agar Ibu bangga. Maka itu dari SD, SMP, SMA aku selalu juara kelas. Aku juga sering mendapatkan beasiswa. Terima kasih Tuhan, walau sakit aku diberi kemampuan belajar dengan baik. Inilah kuasa Allah, walau aku gegar otak, aku tidak idiot.
Sepuluh tahun bolak balik memeriksakan diri ke rumah sakit, ditambah setiap hari menelan obat. Jujur saja, aku sudah bosan. Tapi melihat ibuku yang dengan setia menjaga, mengantar, membuat itu semua terhapus.
Di tengah rasa sakit , kegilaan membaca buku tak berkurang. Segala macam bacaan, aku baca. Enta itu buku pelajaran, buku cerita, buku agama, legenda, koran, semua aku lahap hingga tak tersisa. Bahkan bungkus cabai, sayuran aku baca juga. Membuat ibu geleng-geleng kepala.
Aku juga menulis, mengarang, terutama lagu. Karya-karyaku berlahiran di mana saja, di rumah kami di pinggir rel kereta api, di sekolah, di rumah sakit. Aku suka menulis tentang keindahan alam dan dektetif kecil.
Seringkali rasa sakit menyerang kepalaku. Aku sadar ini dampak dari gegar otak. Di saat nyeri, aku pegang kepalaku. Aku lawan rasa sakit itu. Aku tak mau mengadu pada ibu dan bapak, apalagi kakakku. Serangan sakit ini kadang membuatku sulit berkosentrasi karena rasa pusing yang teramat hebat. Kalau sudah begini, aku mengalah, aku pun istirahat. Setelah tenang, dan tak sakit lagi, barulah aku membaca, menulis dan menyanyi lagi.
Kelas II SD, aku berpikir alangkah bahagianya jika teman-temanku juga merasakan kebahagiaan yang sama pada saat membaca buku. Waktu itu aku berkhayal memiliki perpustakaan. Saking inginnya, aku kemudian menjejerkan 20 buku milikku dan kakakku di atas meja kayu di depan rumah kontrakan kami yang baru di Kebon Kosong. Aku kemudian menawarkan pada orang-orang yang lewat di depan rumah kami. Yang meminjam buku tipis, kukenakan biaya Rp 10,- yang tebal Rp 25,-. Mereka bisa meminjam dari 3 hari hingga 7 hari. Uang itu aku kumpulkan dan kemudian aku belikan buku.
Membentur-Benturkan Kepala
“Rani, suatu hari nanti kakak akan menulis buku seperti ini,” kata kakakku Helvi, suatu hari.
“Aku juga kak,” kataku penuh semangat. Tapi, seketika aku ingat penyakitku. Mana mungkin aku bisa menulis buku jika aku sakit? “Aku gegar otak kak. Tak mungkin jadi penulis buku,” kataku kemudian.
Selain kegiatan bolak balik ke rumah sakit, membaca, menulis, aku juga punya banyak kegiatan. Aku ikut karate, vokal grup, pramuka dan lain-lain. Aku ingin menunjukkan pada dunia walau sakit aku bisa berkarya.
Setelah 10 tahun menelan obat. Aku yakin pengaruh obat tak bagus untuk tubuhku. Aku protes pada ibuku, meminta pengobatan alternatif saja. Pengobatan ini pun dihentikan, aku kemudian mencoba ke akupunktur.
Selang beberapa lama, pengobatan alternatif ini menunjukkan kemajuan. Penyakitku tak bertambah parah. Hanya saja, tiap pusing atau sakit kepala, aku minum obat yang dijual bebas.
Lulus SMP, aku berhasil masuk sekolah favorit SMU I Budi Utomo, bahkan kemudian di akhir pendidikan, aku lulus ikut PMDK di IPB di jurusan Mekanisasi Pertanian. Aku bahagia sekali, bisa membuat ibuku bangga. Beliau menciumiku berkali-kali.
Namun saat kuliah, penyakitku kembali parah. Rasa sakit di kepala sudah tak tertahankan lagi, sehingga aku sering tak sadar membentur-benturkan kepala ke benda keras. Biasanya penyakitku muncul jika aku kelelahan. Sedangkan, tempat kuliahku cukup jauh.
Melihat keadaanku yang memprihatinkan, ibu melarang kuliah. Luluh lantak hatiku mendengar permintaan ibu yang disertai deraian air mata. Tak sekalipun aku membantah kata-katanya. Namun kali ini, aku tak ingin mundur dari kuliah. Kali inipun alasanku kuliah adalah untuk memberikan kebanggaan pada ibu. Aku sudah membayangkan betapa bahagianya ibuku bila aku lulus nanti.
Akhirnya ibuku mengumpulkan keluarga besar, aku pun disidang. Terpaksa aku berhenti kuliah. Ya Tuhan, hancur hatiku, mengambil keputusan ini. Waktu itu aku berpikir, kuliah adalah satu-satunya jalan membuat ibuku bangga.
Saat-saat seperti ini aku terhibur cerpenku , Imut dan Koran Gondrong jadi juara I lomba Menulis Cerita Pendek Islami tingkat nasional yang diadakan majalah Annida.
Cobaan Datang Lagi
Hidupku terus bergulir. Hingga kemudian aku bertemu dengan Isa Alamsyah. Pria ini kemudian melamarku dan kami menikah. Tak lama kami dikarunia seorang anak, Caca, yang lahir tahun 1996. Di tahun 2000, lahir Adam, alangkah bahagianya kami. Adam, bayi yang damai, ia jarang menangis dan rewel. Aku sendiri yang mengurus Adam, hanya suamiku yang membantu. Namun di tengah kebahagiaan ini. Tuhan memberikan cobaan lagi untukku.
Ketika Adam berusia 40 hari, tiba-tiba ia kejang di sebagian tubuhnya. Aku panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Dari pemeriksaan dokter diketahui Adam mengalami pendarahan otak di banyak bagian di kepalanya. Air mataku bercucuran tiada habisnya. Kata dokter, ada kelainan darah pada Adam, ia mengalami kekurangan protombin, zat yang membantu pembekuan darah. Goncangan kecil saja, bisa membuat Adam pendarahan di kepala dan membuatnya menangis keras.
Aku cuma bisa menangis di sudut ruangan, sementara Adam berada di ICU. Sementara Adam beberapa kali kejang. “Dokter tolong Adam dok,” kataku.
Kata dokter pendarahan di kepala tidak bisa dioperas. Pendarahan di kepala Adam ini terdapat pada banyak tempat di rongga-rongga otaknya. Harusnya rongga itu berisi udara. Jika kering akan menyebabkan luka dan akan mempengeruhi saraf di bagian tertentu.
Aku merinding dan ketakutan mendengarkan kata-kata dokter. Suamiku sendiri memintaku untuk mengikhlaskan kondisi Adam apapun terjadi. Karena kondisinya yang memprihatinkan. Sedangkan aku tak mau menyerah, aku sujud dan sujud memohon Allah memberikan kesembuhan yang sempurna untuk Adam, amin.
Adam pun mendapatkan tambahan protombin, di hari ketiga. Sejak itu kejang tak lagi mengganggu Adam. Masa kritis itu telah lewat. Namun aku masih takut dengan dampak pendarahan otak itu.
Setelah 10 hari di rumah sakit, Adam di perbolehkan pulang. Alhamdulillah sejak itu kondisinya membaik. Namun, aku masih dag dig dug, memikirkan bekas luka yang telah mengering di otak Adam. Bagaimana dengan masa depannya? Waktu itu, aku berpikir aku harus mempersiapkan Caca untuk menerima apapun adanya.
“Caca, adik itu berbeda dengan Caca. Ibu cuma mau minta ke Caca, untuk menerima Adam apa adanya,” kataku waktu itu sambil berurai air mata.
Caca mengangguk dan memelukku. Ia seperti mengerti apa yang aku ucapkan, padahal usianya baru 4 tahun.
Operasi 5 Tumor di Kepala
Aku dan keluarga ikhlas menghadapi cobaan ini. Ketika kami memeriksakan kembali kondisi Adam ke rumah sakit, keajaiban datang. Hasil pemeriksaan Adam menunjukkan tak ada bekas luka di otaknya.
“Ini keajaiban. Tak pernah ada , kasus seperti ini,” ujar dokter.
Aku langsung sujud syukur. Ini bukti dari keajaiban doa. Selama ini, aku, suamiku, Caca, mertua, orang tuaku, kakakku dan lain-lain selalu membalut Adam dengan doa.
Dokter mengajakku ke tempat anak-anak yang mengalami penyakit serupa dengan anakku. Ya Allah, ada yang down syndrome, autis, dan lain-lain.
Mungkin karena kelelahan dan stres, penyakitku sakit di kepalaku kembali kambuh. Ibuku dan suamiku memaksa kembali ke dokter. Setelah diperiksa ternyata 5 tumor itu masih bercokol di situ. Tak kusadari bahwa selama puluhan tahun tumor-tumor itu menemaniku. Aku pun kemudian menjalani pengangkatan seluruh tumor itu. Alhamdulillah berjalan lancar.
Sekarang Caca sudah duduk di kelas V! SD, Adam kelas II SD. Caca sudah punya beberapa buku, sedangkan Adam baru saja membuat sebuah cerpen yang telah dibukukan bersama teman-teman yang lainnya. Betapa bahagia aku melihat semua ini. Melihat kedua buah hatiku tumbuh dngan ceria.
Aku sendiri bersyukur. Dari semua cobaan yang kulewati, aku berhasil membuat 32 buku, dan tak terhitung lagi buku antologi bersama penulis lainnya. Banyak kegiatan yang aku ikuti, seperti mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei, 2001, berpartisipasi di Bengkel Penulisan Novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara, lalu di tahun 2001, diundang sebagai instruktur Pelatihan Penulisan Cerpen yang diadakan ICMI Orsat Cairo, dilanjutkan tahun 2002, diundang untuk memberikan workshop menulis oleh Forum Lingkar Pena Hongkong (seluruh anggota FLP Hongkong adalah buruh migran perempuan).
Pada July 2005, aku terpilih sebagai satu dari dua sastrawan Indonesia untuk mengikuti Asian Writers Exchange Program, dan tinggal di Korea selama 6 bulan (Maret sd September 2006). Aku juga menjadi pembicara di Seoul Young Writer Internasional, Korea Selatan, bahkan di bulan Mei 2006, diundang juga sebagai pembicara dalam seminar sastra The 2nd Asian Literary Forum di Gwangju, Korea, Oktober 2006.
Alhamdulillah, cita-citaku membuat ibuku bangga berhasil kuwujudkan. Aku tak pernah menyangka inilah garis Tuhan untukku. Pertengahan Desember ini aku dan suami akan berangkat naik haji. InsyaAllah tahun depan aku bisa memberangkatkan ibu.
Sekarang ini, aku masih sering diganggu pusing kepala, juga sesak nafas. Penyakit utamaku yang sulit tidur juga masih sering kumat. Beberapa waktu yang lalu, kepalaku di scan kembali, hasilnya menunjukkan bahwa telah tumbuh 3 tumor di kepala. Aku harap tumor ini tak banyak menganggu aktivitasku.
Di kawasan kumuh penjaringan, dekat keramaian pasar, danjuga lingkungan boker (tempat pelacuran), nampak sebuah ruangan 2x3 meter dipenuhi anak-anak yang asyik membaca. Ruangan itu bernama Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya – salah satu program Forum Lingkar Pena yang didirikan Asma Nadia). Tak jauh dari anak-anak, nampak Asma Nadia berdiri menatap anak-anak itu. Airmatanya menetes di pipi. Sebentar lagi Rumah Cahaya akan digusur. Di tengah kegelisahannya terhadap kondisi rumah baca tersebut, ia masih terus berusaha menggalang dana untuk dapat membeli lahan kecil agar anak-anak tak mampu itu bisa tetap membaca buku dengan tenang.
Sekilas, kehidupan Asma Nadia sebagai penulis buku yang sukses nampak sempurna. Menghasilkan 32 buku laris manis, salah satunya Catatan Hati Seorang Istri, yang terbit Mei 2007, dan tujuh kali cetak ulang, memiliki 2 orang anak, dan suami yang berkaris sebagai wartawan NHK Jepang, Namun siapa yang menduga, di kepala Asma, terdapat 3 tumor, bahkan sebelumnya 5 tumor telah diangkat. Gegar otak yang dialami, menyebabkan berbagai penyakit menggereogoti di tubuhnya.
Di antara riuh rendah anak-anak yang memenuhi Rumah Cahayanya, Asma Nadia mengurai kisah hidupnya pada Witri Suarti dari Tabloid Wanita Indonesia.
Ibuku Cinta Buku
Aku lahir 26 Maret 1972. Nama asliku Asmarani Rosalba, artinya mawar putih yang selalu membawa keharuman untuk siapapun. Kakakku Helvi Tiana Rosa, juga seorang penulis. Bapakku Amin Usman pencipta lagu. Ibuku Maria Eri Susanti.
Ketika kecil aku dipanggil Rani. Sejak kecil aku sudah dididik ibu untuk mencintai buku. Makanya sebelum masuk sekolah aku sudah bisa membaca dan menulis. Tak cuma aku, kakakku Helvi juga hobi membaca dan menulis.
Ketika aku usia 6 tahun aku sudah membuat puisi untuk kakakku tercinta Helvi: Kakakku manis sekali, Aku sayang padanya, Ia pun sayang padaku, kakakku sayang.
Ketika kecil, kami hidup pas-pasan. Bapak dan ibuku hidup mandiri di Jakarta. Mereka hijrah dari Medan. Padahal kehidupan di keluarga mereka sangat menjanjikan.
Meski hidup pas-pasan ibu sangat mencintai buku. Menurut dia, anak-anak harus dikenalkan pada buku sedini mungkin. Ibu membelikan kami buku-buku legenda, juga buku-buku agama. Padahal, penghasilan bapakku hanya cukup untuk hari ini saja. Untuk esok hari, bapak dan ibu tak tahu mau makan apa.
Dalam kondisi ini ibu masih suka memberi pada orang yang lebih susah. Ibu tak pernah menangis hidup kami yang pas-pasan. Tapi ibu akan melelehkan air mata jika mendengar atau melihat orang lain yang susah.
Di Jakarta, kami pindah dari kontrakan satu ke kontrakan yang lainnya. Selalu tinggal di daerah yang kumuh, dan rumah kontrakan sederhana, hanya ada dua ruang tempat tidur. Satu ruang tempat tidur aku dan Helvy, satu lagi untuk ibu bapakku dan adikku.
Ketika usiaku 7 tahun, kami pernah tinggal di pinggir rel kereta api di kawasan Gunung Sahari. Jika kereta api lewat, aku merasakan rumah kami bergetar.
Gegar Otak Akibat Mimpi Buruk
Suatu sore aku asyik membaca tentang surga, neraka, syetan, malaikat. Aku membaca di atas tempat tidur, hingga kemudian tertidur. Saat itu aku bermimpi buruk. Cerita buku itu menyusup ke dalam tidurku. Hingga aku mengalami ketakutan dan tanpa sadar aku menarik bantalku. Di saat melepaskan bantal dari kepala, kepalaku langsung terbentur pinggir tempat tidur yang terbuat dari besi. Keras sekali. Aku terbangun dan mengaduh. Kuusap kepalaku dan kulihat sedikit darah di tangan. Tiba-tiba, di saat yang sama aku merasakan perutku mual. Hueeeek..!, Aku kemudian muntah hingga tiga kali. Ibuku yang berada di kamar sebelah, segera menghampiri.
“Kenapa kamu Rani?”
Saat itu juga aku dibawa ke rumah sakit. Menjalani berbagai pemeriksaan.
Dokter menatap mataku, kemudian sekilas memandang ibu dan bapakku. Ia menghela nafas panjang.
“Maaf. Bidadari cantik, Asmarani Rosalba … gegar otak!” kata dokter.
Aku terbengong. Ibu dan bapakku membeku. Walau aku masih kecil aku sudah mengerti apa itu gegar otak.
“Sebaiknya Asmarani, ibu dan bapak lebih mendekatkan diri pada Tuhan, berdoa memohon gegar otak ini tak berpengaruh fatal,” kata dokter sambil menatapku dengan penuh kasih.
Aku cuma bisa meneteskan air mata. Namun, bibirku tersenyum, berusaha menerima takdir ini. Setelah itu, masih ada rentetan pemeriksaan dokter padaku.
Hasilnya membuat ibu bapakku menangis tersedu-sedu. Akibat dari benturan itu, aku mengalami kelainan otak bagian belakang. Jantungku pun kemudian bermasalah. Paru-paruku juga kotor, bahkan tiga belas gigiku membusuk dan tumbuh tak beraturan.
Mulut Dimasuki Selang
Aku cuma bisa pasrah dan berdoa. Ya Tuhan, beri aku kemampuan menerima cobaan ini. Aku sering mendengar ibuku berkata, kalau Tuhan tak akan memberikan cobaan, melebihi kemampuan hambanya. Aku sangat menyakini kata-kata ini. Aku sangat yakin aku mampu menjalani ini.
Aku yang semla ceria, sehat dan ramai. Mendadak menjadi gadis kecil yang memiliki banyak penyakit. Meski begitu, aku hadapi dengan senyum, senyum dan senyum. Doa, doa dan doa. Seperti yang selalu ibu ajarkan kepadaku.
Suatu hari, saat memeriksakan diri, dokter bilang padaku, kalau terdapat lima tumor di kepalaku. Tentu saja, lagi-lagi ini mengejutkan Ibu. Namunaku melihat, baaimana Ibu sedemikian tegarnya. Ia tetap mengurusku dengan baik dan rajin membawaku ke dokter. Aku sering tak mengerti, mengapa Ibu masih saja membawaku rutin ke dokter, padahal aku tahu keadaan kami sedang sudah.
Seperti anak kecil lainnya, aku sering jenuh, saat menunggu dipanggil dokter atau mengambil obat. Ibuku selalu bilang padaku,” sabar ya Ran, nanti pulang dari rumah sakit, kita beli buku bacaan.”
Kata-kata ini membuatku tak mengeluh lama selama di rumah sakit. Karena yang ada di otakku, betapa bahagianya mendapatkan buku baru di dekat terminal senin, buku bekas yang harganya murah.
Aku menjalani berbagai pengobatan termasuk mencabut 13 gigiku yang busuk dan tak beraturan. Mulutku dimasukkan selang, untuk mengeluarkan cairan kotor di paru-paruku.
Paru-paru kotor ini membuat aku sering batuk. Jantung yang tak beres membuat aku juga sering susah bernafas. Namun aku berusaha tegar dan tak cengeng merasakan penyakit ini.
Saat Pusing Menyerang
Perjuangan ibu tak hanya sekedar membawaku ke rumah sakit. Ibu juga sering tak makan siang, demi bisa membelikan aku buku. Hal itu membuatku terharu dan berjanji akan membuat ibu bangga. Aku harus menunjukkan diriku berprestasi. Agar Ibu bangga. Maka itu dari SD, SMP, SMA aku selalu juara kelas. Aku juga sering mendapatkan beasiswa. Terima kasih Tuhan, walau sakit aku diberi kemampuan belajar dengan baik. Inilah kuasa Allah, walau aku gegar otak, aku tidak idiot.
Sepuluh tahun bolak balik memeriksakan diri ke rumah sakit, ditambah setiap hari menelan obat. Jujur saja, aku sudah bosan. Tapi melihat ibuku yang dengan setia menjaga, mengantar, membuat itu semua terhapus.
Di tengah rasa sakit , kegilaan membaca buku tak berkurang. Segala macam bacaan, aku baca. Enta itu buku pelajaran, buku cerita, buku agama, legenda, koran, semua aku lahap hingga tak tersisa. Bahkan bungkus cabai, sayuran aku baca juga. Membuat ibu geleng-geleng kepala.
Aku juga menulis, mengarang, terutama lagu. Karya-karyaku berlahiran di mana saja, di rumah kami di pinggir rel kereta api, di sekolah, di rumah sakit. Aku suka menulis tentang keindahan alam dan dektetif kecil.
Seringkali rasa sakit menyerang kepalaku. Aku sadar ini dampak dari gegar otak. Di saat nyeri, aku pegang kepalaku. Aku lawan rasa sakit itu. Aku tak mau mengadu pada ibu dan bapak, apalagi kakakku. Serangan sakit ini kadang membuatku sulit berkosentrasi karena rasa pusing yang teramat hebat. Kalau sudah begini, aku mengalah, aku pun istirahat. Setelah tenang, dan tak sakit lagi, barulah aku membaca, menulis dan menyanyi lagi.
Kelas II SD, aku berpikir alangkah bahagianya jika teman-temanku juga merasakan kebahagiaan yang sama pada saat membaca buku. Waktu itu aku berkhayal memiliki perpustakaan. Saking inginnya, aku kemudian menjejerkan 20 buku milikku dan kakakku di atas meja kayu di depan rumah kontrakan kami yang baru di Kebon Kosong. Aku kemudian menawarkan pada orang-orang yang lewat di depan rumah kami. Yang meminjam buku tipis, kukenakan biaya Rp 10,- yang tebal Rp 25,-. Mereka bisa meminjam dari 3 hari hingga 7 hari. Uang itu aku kumpulkan dan kemudian aku belikan buku.
Membentur-Benturkan Kepala
“Rani, suatu hari nanti kakak akan menulis buku seperti ini,” kata kakakku Helvi, suatu hari.
“Aku juga kak,” kataku penuh semangat. Tapi, seketika aku ingat penyakitku. Mana mungkin aku bisa menulis buku jika aku sakit? “Aku gegar otak kak. Tak mungkin jadi penulis buku,” kataku kemudian.
Selain kegiatan bolak balik ke rumah sakit, membaca, menulis, aku juga punya banyak kegiatan. Aku ikut karate, vokal grup, pramuka dan lain-lain. Aku ingin menunjukkan pada dunia walau sakit aku bisa berkarya.
Setelah 10 tahun menelan obat. Aku yakin pengaruh obat tak bagus untuk tubuhku. Aku protes pada ibuku, meminta pengobatan alternatif saja. Pengobatan ini pun dihentikan, aku kemudian mencoba ke akupunktur.
Selang beberapa lama, pengobatan alternatif ini menunjukkan kemajuan. Penyakitku tak bertambah parah. Hanya saja, tiap pusing atau sakit kepala, aku minum obat yang dijual bebas.
Lulus SMP, aku berhasil masuk sekolah favorit SMU I Budi Utomo, bahkan kemudian di akhir pendidikan, aku lulus ikut PMDK di IPB di jurusan Mekanisasi Pertanian. Aku bahagia sekali, bisa membuat ibuku bangga. Beliau menciumiku berkali-kali.
Namun saat kuliah, penyakitku kembali parah. Rasa sakit di kepala sudah tak tertahankan lagi, sehingga aku sering tak sadar membentur-benturkan kepala ke benda keras. Biasanya penyakitku muncul jika aku kelelahan. Sedangkan, tempat kuliahku cukup jauh.
Melihat keadaanku yang memprihatinkan, ibu melarang kuliah. Luluh lantak hatiku mendengar permintaan ibu yang disertai deraian air mata. Tak sekalipun aku membantah kata-katanya. Namun kali ini, aku tak ingin mundur dari kuliah. Kali inipun alasanku kuliah adalah untuk memberikan kebanggaan pada ibu. Aku sudah membayangkan betapa bahagianya ibuku bila aku lulus nanti.
Akhirnya ibuku mengumpulkan keluarga besar, aku pun disidang. Terpaksa aku berhenti kuliah. Ya Tuhan, hancur hatiku, mengambil keputusan ini. Waktu itu aku berpikir, kuliah adalah satu-satunya jalan membuat ibuku bangga.
Saat-saat seperti ini aku terhibur cerpenku , Imut dan Koran Gondrong jadi juara I lomba Menulis Cerita Pendek Islami tingkat nasional yang diadakan majalah Annida.
Cobaan Datang Lagi
Hidupku terus bergulir. Hingga kemudian aku bertemu dengan Isa Alamsyah. Pria ini kemudian melamarku dan kami menikah. Tak lama kami dikarunia seorang anak, Caca, yang lahir tahun 1996. Di tahun 2000, lahir Adam, alangkah bahagianya kami. Adam, bayi yang damai, ia jarang menangis dan rewel. Aku sendiri yang mengurus Adam, hanya suamiku yang membantu. Namun di tengah kebahagiaan ini. Tuhan memberikan cobaan lagi untukku.
Ketika Adam berusia 40 hari, tiba-tiba ia kejang di sebagian tubuhnya. Aku panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Dari pemeriksaan dokter diketahui Adam mengalami pendarahan otak di banyak bagian di kepalanya. Air mataku bercucuran tiada habisnya. Kata dokter, ada kelainan darah pada Adam, ia mengalami kekurangan protombin, zat yang membantu pembekuan darah. Goncangan kecil saja, bisa membuat Adam pendarahan di kepala dan membuatnya menangis keras.
Aku cuma bisa menangis di sudut ruangan, sementara Adam berada di ICU. Sementara Adam beberapa kali kejang. “Dokter tolong Adam dok,” kataku.
Kata dokter pendarahan di kepala tidak bisa dioperas. Pendarahan di kepala Adam ini terdapat pada banyak tempat di rongga-rongga otaknya. Harusnya rongga itu berisi udara. Jika kering akan menyebabkan luka dan akan mempengeruhi saraf di bagian tertentu.
Aku merinding dan ketakutan mendengarkan kata-kata dokter. Suamiku sendiri memintaku untuk mengikhlaskan kondisi Adam apapun terjadi. Karena kondisinya yang memprihatinkan. Sedangkan aku tak mau menyerah, aku sujud dan sujud memohon Allah memberikan kesembuhan yang sempurna untuk Adam, amin.
Adam pun mendapatkan tambahan protombin, di hari ketiga. Sejak itu kejang tak lagi mengganggu Adam. Masa kritis itu telah lewat. Namun aku masih takut dengan dampak pendarahan otak itu.
Setelah 10 hari di rumah sakit, Adam di perbolehkan pulang. Alhamdulillah sejak itu kondisinya membaik. Namun, aku masih dag dig dug, memikirkan bekas luka yang telah mengering di otak Adam. Bagaimana dengan masa depannya? Waktu itu, aku berpikir aku harus mempersiapkan Caca untuk menerima apapun adanya.
“Caca, adik itu berbeda dengan Caca. Ibu cuma mau minta ke Caca, untuk menerima Adam apa adanya,” kataku waktu itu sambil berurai air mata.
Caca mengangguk dan memelukku. Ia seperti mengerti apa yang aku ucapkan, padahal usianya baru 4 tahun.
Operasi 5 Tumor di Kepala
Aku dan keluarga ikhlas menghadapi cobaan ini. Ketika kami memeriksakan kembali kondisi Adam ke rumah sakit, keajaiban datang. Hasil pemeriksaan Adam menunjukkan tak ada bekas luka di otaknya.
“Ini keajaiban. Tak pernah ada , kasus seperti ini,” ujar dokter.
Aku langsung sujud syukur. Ini bukti dari keajaiban doa. Selama ini, aku, suamiku, Caca, mertua, orang tuaku, kakakku dan lain-lain selalu membalut Adam dengan doa.
Dokter mengajakku ke tempat anak-anak yang mengalami penyakit serupa dengan anakku. Ya Allah, ada yang down syndrome, autis, dan lain-lain.
Mungkin karena kelelahan dan stres, penyakitku sakit di kepalaku kembali kambuh. Ibuku dan suamiku memaksa kembali ke dokter. Setelah diperiksa ternyata 5 tumor itu masih bercokol di situ. Tak kusadari bahwa selama puluhan tahun tumor-tumor itu menemaniku. Aku pun kemudian menjalani pengangkatan seluruh tumor itu. Alhamdulillah berjalan lancar.
Sekarang Caca sudah duduk di kelas V! SD, Adam kelas II SD. Caca sudah punya beberapa buku, sedangkan Adam baru saja membuat sebuah cerpen yang telah dibukukan bersama teman-teman yang lainnya. Betapa bahagia aku melihat semua ini. Melihat kedua buah hatiku tumbuh dngan ceria.
Aku sendiri bersyukur. Dari semua cobaan yang kulewati, aku berhasil membuat 32 buku, dan tak terhitung lagi buku antologi bersama penulis lainnya. Banyak kegiatan yang aku ikuti, seperti mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei, 2001, berpartisipasi di Bengkel Penulisan Novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara, lalu di tahun 2001, diundang sebagai instruktur Pelatihan Penulisan Cerpen yang diadakan ICMI Orsat Cairo, dilanjutkan tahun 2002, diundang untuk memberikan workshop menulis oleh Forum Lingkar Pena Hongkong (seluruh anggota FLP Hongkong adalah buruh migran perempuan).
Pada July 2005, aku terpilih sebagai satu dari dua sastrawan Indonesia untuk mengikuti Asian Writers Exchange Program, dan tinggal di Korea selama 6 bulan (Maret sd September 2006). Aku juga menjadi pembicara di Seoul Young Writer Internasional, Korea Selatan, bahkan di bulan Mei 2006, diundang juga sebagai pembicara dalam seminar sastra The 2nd Asian Literary Forum di Gwangju, Korea, Oktober 2006.
Alhamdulillah, cita-citaku membuat ibuku bangga berhasil kuwujudkan. Aku tak pernah menyangka inilah garis Tuhan untukku. Pertengahan Desember ini aku dan suami akan berangkat naik haji. InsyaAllah tahun depan aku bisa memberangkatkan ibu.
Sekarang ini, aku masih sering diganggu pusing kepala, juga sesak nafas. Penyakit utamaku yang sulit tidur juga masih sering kumat. Beberapa waktu yang lalu, kepalaku di scan kembali, hasilnya menunjukkan bahwa telah tumbuh 3 tumor di kepala. Aku harap tumor ini tak banyak menganggu aktivitasku.
url sumber : http://www.tabloid-wanita-indonesia.com/939/kisahsejati.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar