27.12.07

Korban Tsunami Aceh yang Selamat Satu Keluarga

Sudiharto,50 , dan istrinya Rahmadiyah,40, merupakan beberapa penduduk Aceh tepatnya di desa Blower, Banda Aceh yang selamat dari maut. Beserta lima orang anaknya, keluarga Sudiharto berhasil lari dari kejaran air bah gelombang tsunami. Hal yang paling membahagiakan hidupnya saat semua orang kehilangan nyawa seluruh keluarga. Sudiharto juga berhasil menyelamatkan kedua mertuanya yang berusia 80 tahun.
Lima menit gempa yang hebat, Rahmadiyah teringat anak-anaknya, padahal saat itu dirinya masih dinas sebagai Pegawai Sipil Polri di NAD. Ia ungsikan anak-anaknya ke desa tempat kakaknya tinggal yang tak terkena musibah. Berlari sekencang mungkin Rahmadiyah membawa anaknya meskipun dalam pikirannya juga berkecamuk bagaimana menyelamatkan orang tuanya yang sudah renta yang masih di dalam rumah.
Dibantu sang adik dan suaminya, kedua orang tuanya berhasil dilarikan dengan naik kendaraan yang masih ada saat itu, meskipun saat itu mereka sudah mendengar orang berteriak,…’air…air…naik’. Saat menengok, suami istri itu sudah melihat bergulung-gulung air yang hitam sudah seperti di depan mata, mereka sekencang mungkin berlari menuju masjid yang selamat dari hempasan tsunami. Di masjid juga sudah banyak penduduk yang berlindung.
Dalam hitungan detik, mereka menyaksikan desanya disapu oleh air bah yang sangat dahsyat. Tangis pilu menyayat hati, namun serasa tercekat untuk berteriak. 10 menit berikutnya air surut, kota menjadi lautan kayu, pasir, batu, dan mayat. Tak ada lagi kehidupan indah Aceh. Puluhan ribu manusia menemui ajalnya oleh sapuan air.
Namun ucapan Alhamdulillah maih terucap di bibir kelu Sudiharto dan Rahmadiyah. Dia sadari sepenuhnya miliknya adalah milik Tuhan, dan kebahagiaan berkumpul dengan keluarga masih mereka dapatkan di tengah tangisan pilu mereka yang kehilangan keluarga serta hartanya. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan, atap rumah, tiang listrik, pohon, selokan terjepit puing-puing serta jalan yang hilang membuat mereka enggan kembali ke rumah.
Setelah empat hari pasca bencana itu, Sudiharto dan istrinya memberanikan diri menegok puing-puing rumahnya yang barangkali masih bisa mereka saksikan dan pungut sisa-sisa hartanya.
“Yah, mbak tak ada lagi baju saya. Ini yang melekat pun orang yang beri. Lagi pun mau minta tolong siapa, semua juga mengalami hal yang sama, tak ada lagi yang bisa nolong, tetangga punya rumah juga hancur bahkan hilang, siapa tahu saya masih bisa ambil baju yang ada di almari yang berhasil kita korek biar kotor toh nanti kita cuci,” ujarnya panjang lebar, dengan suara gamang yang rendah.
Saat dia bertutur, ditengoknya sekeliling. “Lihat, itu mayat-mayat masih nyangkut dan terjepit di sana-sini, sudah hancurlah desa Blower ini. Kita cari hidup sendiri-sendiri, entahlah jalani aja, udah pasrah kita,”tuturnya semakin menyayat. Namun tak terlihat lagi tangis di guratan wajahnya, meski bersuara rendah Sudiharto tetap ingin tetap hidup. Karena hidup tetap harus berjalan apapun keadaannya. Harapannya Aceh kembali normal dan indah seperti sedia kala.(Tami Kusnadi)

url sumber : http://www.acehmediacenter.or.id/index.php?dir=news&file=detail&id=64

Tidak ada komentar: