27.12.07

Karikatur Nabi Muncul di Buletin STAIN, Massa FPI "Serbu" kampus STAIN Samarinda

Samarinda (16 Juli 2007)
Puluhan massa Front Pembela Islam (FPI) Kaltim "menyerbu" Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAIN) Samarinda di Jalan Abul Hasan, aksi demo itu terkait dengan pemuatan karikatur Nabi Muhammad, SAW dalam buletin kampus "Sapu Lidi".Dilaporkan di Samarinda, Jumat (13/7), puluhan massa dari berbagai Ormas Islam yang dimotori Front Pembela Islam (FPI) Kaltim, melakukan unjuk rasa di depan kampus.Karikatur itu diduga diambil dari internet karena sama dengan yang pernah disiarkan oleh media Denmark yang sempat menimbulkan kemarahan umat Islam di berbagai negara. Sementara isi berita di buletin itu tidak ada persoalan, hanya yang dimasalahkan adalah karikatur gambar orang bersorban membawa pedang serta diapit dua wanita mengenakan cadar itu. Aksi unjuk rasa itu dipimpin langsung Ketua FPI Kaltim Muhammad Alwi Assegaf. Dengan mengendarai sebuah mobil pick up serta puluhan kendaraan roda dua, massa bergerak dari Lapangan Gelanggang Olahraga Segiri Jalan Kusuma Bangsa sekitar pukul 09:00 Wita dan langsung memarkir kendaraan di depan pintu masuk kampus STAIN. Perwakilan pengunjuk rasa langsung diterima pihak STAIN yang difasilitasi Wakapoltabes Samarinda, Ajun Komisaris Besar Hadi Purnomo. Saat perwakilan massa melakukan pertemuan dengan pihak Kampus STAIN sebagian pengunjuk rasa berorasi di depan kampus sambil membagikan selebaran dan membakar dua bendera PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).Ketegangan sempat terjadi saat pengunjuk rasa mencoba menerobos pintu STAIN dengan membuka paksa gembok yang dipasang. Bahkan, aksi saling dorong antara pengunjuk rasa dan polisi tak terhindarkan saat pengunjuk rasa berhasil membuka gembok pintu gerbang kampsu STAIN dengan menggunakan palu. Beruntung, bentrokan antar pengunjuk rasa dan polisi dapat dihindarkan saat Kasat Intel Poltabes Samarinda Komisaris Ibrahim meminta masa untuk tidak memaksa masuk, sebab perwakilan mereka masih melakukan perundingan.Usai melakukan perundingan, Ketua FPI Kaltim Muhammad Alwi Assegaf mengatakan bahwa pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa. Ia menjelaskan bahwa pihak STAIN masih akan melakukan pertemuan secara internal untuk memutuskan tuntutan FPI Kaltim yang meminta pengelola Buletin Sapu Lidi dikeluarkan dari STAIN."Pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa, sebab pihak STAIN tidak berani mengambil keputusan untuk mengeluarkan mahasiswanya yang terlibat kasus pelecehan Nabi Muhammad," ujar Ketua FPI Kaltim di hadapan massa.Dia mengancam akan menurunkan massa lebih besar lagi, jika pihak STAIN tidak melakukan tindakan tegas terhadap pengelola buletin Sapu Lidi. Bahkan, massa mengancam akan melakukan sweeping untuk mencari pengelola majalah Sapu Lidi jika tidak ada kepastian atas tindakan yang dianggap melakukan penistaan terhadap umat Islam di Kaltim."Kami menuntut agar mereka (pengelola Buletin Sau Lidi) di DO (droup out) dan phak STAIN membekukan segala aktifitas PMII Komisariat STAIN. Juga menuntut polisi untuk segera mengusut tuntas dan menangkap pelakunya," ujar Muh. Alwi Assegaf.Sementara, Ketua Ansor Kaltim yang juga mantan Ketua Umum PMII Kaltim, Saparuddin yang ikut menyaksikan aksi unjuk rasa itu mengaku sangat menyayangkan pembakaran bendera PMII dalam aksi unjuk rasa itu."Saya sangat menyayangkan pemuatan karikatur Nabi Muhammad itu, tetapi saja juga menyesalkan tindakan mereka (pengunjuk rasa) yang membakar bendera PMII. Mestinya, mereka harus obyektif melihat masalah ini, dan bukan melihat lembaganya tetapi individu yang melakukannya," kata Saparuddin.Ketua Anshor Kaltim itu mengaku sejak kasus itu mencuat, dia sebagai mantan ketua Uum PMII dan sebagai tokoh pemuda langsung memanggil pengelola buletin Sapu Lidi. "Masalah ini harus diselesaikan dengan kepala dingin dan melalui musyawarah, bukan dengan aksi unjuk rasa. Kamis malam kemarin, saya telah memanggil pengelola buletin itu, dan mereka sudah meminta maaf kepada kami, MUI dan bahkan FPI," katanya. "Mestinya, MUI mempertemukan semua pihak untuk menyelesaikan kasus ini agar tidak berkembang lebih luas lagi," imbuh Ketua Anshor Kaltim itu.(RRI-Online)Karikatur Nabi Muncul di Buletin STAIN SAMARINDA---Warga Islam Samarinda terkejut serta memprotes keras mengenai pemuatan karikatur Nabi Muhammad, SAW pada Buletin Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Samarinda. Dilaporkan di Samarinda, Senin (9/7) bahwa gambar itu diduga diambil dari internet karena mirip dengan yang pernah dimuat oleh surat khabar Denmark sehingga mengundang kemarahan umat Islam seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pada edisi III/TH I/VI/2007 yang berjudul "Mewaspadai Gerakan Kelompok Islam Ekstrim" terdapat dua karikatur. Salah satunya karikatur itu menunjukkan seorang pria memakai sorban memegang pedang yang diapit dua wanita dan di kepalanya bertuliskan Muhammad."Selama dua hari, saya mendapat SMS dari seluruh umat Islam dari seluruh Kaltim. Mereka mempertanyakan masalah karikatur itu sehingga hari ini saya langsung menemui pihak STAIN dan pengelola buletin itu," kata Ketua MUI Samarinda KH Zaini Naim ketika dikonfirmasi melalui telepon selularnya.Pihak MUI yang dipimpin Zaini Naim langsung menemui Ketua STAIN Samarinda, Abdul Hadi dan Pimpinan Redaksi Buletin STAIN, Taufik Bil Haqi untuk menanyakan tujuan pemuatan karikatur tersebut. Ketua MUI Samarinda menilai bahwa karikatur tersebut memang mirip dengan karikatur yang pernah dimuat di sejumlah media di Denmark. "Karikatur itu jelas melecehkan umat Islam. Pihak STAIN sendiri mengaku tidak tahu pemuatan karikatur tersebut namun pak Abdul Hadi baik secara institusi maupun pribadi meminta maaf kepada umat Islam," imbuh dia. Awalnya, pihak pengelola buletin itu sempat bersikeras bahwa karikatur itu tidak ada niat untuk melecehkan. Tetapi setelah pihak MUI memberi penjelasan tentang tidak bolehnya memuat gambar Nabi Muhammad, SAW dalam bentuk apapun, akhirnya mereka meminta maaf. Ditanya sikap MUI Samarinda atas karikatur itu, Zaini Naim mengaku tidak menempuh jalur hukum karena mereka sudah minta maaf. Namun, katanya menambahkan bahwa MUI tidak menjamin apabila ada ormas Islam yang akan membawa kasus itu ke proses hukum."Kami sangat menyayangkan pemuatan karikatur itu tetapi karena pihak pengelola (buletin kampus) sudah meminta maaf, maka kami sebagai orang tua tentunya memberi maaf tetapi kami sudah memberikan warning keras agar hal itu tidak diulangi," katanya. Ketua STAIN Samarinda Abdul Hadi usai pertemuan dengan pihak MUI Samarinda mengaku tidak tahu adanya pemuatan karikatur Nabi Muhammad, SAW pada Buletin STAIN. Namun, Abdul Hadi mengaku pihaknya secara terbuka meminta maaf kepada umat Islam serta berharap masalah itu tidak menjadi polemik yang bisa membuat kondisi Kaltim tidak aman.Sementara itu Pimpinan Redaksi Buletin STAIN, Taufik Bil Haqi tetap membantah tentang adanya niat untuk melecehkan umat Islam. Dia mengaku bahwa tidak punya maksud tertentu di balik pemuatan karikatur yang dianggap mirip dengan karikatur Nabi Muhammad tersebut. "Karikatur itu kami ambil dari internet dan tidak ada sedikitpun niat melecehkan Nabi Muhammad. Mana mungkin saya sebagai orang Islam sendiri mau menghina Rasul kita. Apabila hal itu dianggap salah, maka saya mewakili redaksi meminta maaf," katanya. (ant/RioL)




Tidak ada komentar: