
Alhamdulillah wa syukurillah, di Latvia ada manusia bernama Uldis Berzins. Berkat perjuangannya, dakwah Islam di negara itu menyebar dengan cepat, setelah nyaris kehilangan pamor sejak 2001. Biro Pusat Statistik negara itu mencatat jumlah organisasi Muslim di negara itu sebanyak 7 buah di tahun 2001. Namun jumlah itu menyusut menjadi lima buah dua tahun kemudian.
Berzins, seorang penyair dan penerjemah, menggagas penerjemahan Alquran dalam bahasa Latvia dan beberapa bahasa lokal. Gagasannya itu didukung Latvijas Kulturkapitala Fonds, badan pemerintah yang menyalurkan bantuan negara bagi proyek-proyek kebudayaan.
Kebetulan, Berzins menguasai beberapa bahasa, termasuk Turki dan Arab. “Dengan penerjemahan ini, orang akan lebih bisa memahami dan melihat Islam secara jelas,” ujarnya.
Menurut dia, ajaran Alquran sangat universal dan penuh dengan ajaran-ajaran kemanusiaan. “Semua rujukan mengenai hidup bermasyarakat ada di sana,” ujarnya.
Tak lama setelah proyek penerjemahan selesai, Alquran menjadi salah satu bahan pustaka yang dicari-cari. Proyek penerjemahan itu menjadi semacam lokomotif, karena setelah itu, berbagai penerbitan ramai-ramai mencetak buku-buku keislaman dalam bahasa lokal. “Publik sangat antusias,” ujarnya.
Berkorelasi atau tidak dengan proyek Berzins itu, namun jumlah Muslim di Latvia kini terdongkrak naik. Menurut data Liga Muslim Latvia, saat ini terdapat lebih dari 10 ribu Muslim di Latvia.
Dakwah Islam digiatkan oleh Liga Muslim. Selain membagikan Alquran gratis, mereka juga membuka pintu bagi siapa saja. Kelas-kelas agama yang mereka selenggarakan selalu penuh peminat. “Mereka biasa datang dan kita berdiskusi,” ujar Saeed.
Pemerintah juga menyediakan ruang khusus di tiap instansi untuk melakukan shalat lima waktu. Begitu juga di sekolah-sekolah. “Kondisinya kini berubah 180 derajat dari saat kami masih di bawah Uni Soviet,” tambah pria yang tinggal di Riga sejak 1989 ini.
Muslim Latvia berasal dari beragam latar belakang etnis. Selain Rusia dan penduduk asli Latvia, Muslim di negara itu berasal dari Arab, Afrika, dan Asia. Mereka juga berasal dari kelas sosial yang beragam. "Islam tidak memandang ras dan kasta, begitu juga di Latvia,” ujar Mamound Saeed, pimpinan Liga Muslim Latvia.
Dagnia Kirkoz, mualaf asal Lutvia yang kini tinggal di Libanon, mengaku tercengang dengan jumlah penganut Islam di negeri asalnya. Namun ia bisa memahami. “Islam sungguh menarik. Beda dengan gambaran media mengenai agama ini, Islam sungguh penuh dengan ajaran kasih sayang,” ujarnya.
Menurut Kirkoz, Islam memberinya ketenangan psikologis, hal yang tak pernah dijumpainya selama ini. “Dalam Islam, saya bisa berkomunikasi secara intens lima kali sehari dengan Tuhan saya,” ujar wanita kelahiran Madona, sebuah kota kecil di Latvia ini.
Kirkoz mengenal Islam dua tahun lalu saat belajar di University of Latvia. Dia pertama kali tertarik dengan ajaran ketuhanan menurut Islam, selain toleransi dan tatanan sosial yang diatur dalam Alquran. “Sangat realistis,” ujarnya.
Di sisi lain, ia kagum dengan kebersahajaan rekan-rekan Muslim di kampusnya. “Di tengah kebencian media pada Islam, mereka menyikapinya dengan serius belajar, dan tersenyum pada orang yang mengejeknya,” tambahnya.
Eksis sejak 1800-an Islam pertama datang di Latvia sekitar tahun 1800-an. Mereka umumnya adalah bangsa Turki dan Tatar. Masuknya Islam ke negara itu berbarengan dengan perang Turki, yaitu Perang Krimea dan Perang Rusia-Turki pada 1877.
Di Latvia, istilah orang selatan biasanya merujuk pada orang asal Caucasus dan Tatar, kebanyakan mereka Muslim. Ada hampir 1000 Muslim Tatar di Riga pada 1890. Pihak berkuasa Latvia membenarkan sebuah kubur di Riga, bersebelahan dengan Pletenberga, sebagai kuburan Muslim tertua di negara itu.
Menurut sejarawan Vladislav Scherbeinsky, organisasi Muslim pertama berdiri tahun 1902 dan diakui oleh pemerintah Latvia. Mereka memilih Ibrahim Davidof sebagai ketua. Sebuah dewan masjid juga didirikan, kendati secara fisik tidak ada masjid yang berdiri. Mereka kemudian menyebar hingga ke Moskow.
Saat Perang Dunia I, banyak Muslim yang menetap di wilayah itu ditangkap oleh Tsar Rusia. Rezim Tsar menuding mereka sebagai antek musuh karena latar belakang asal-usul mereka dari Turki. Turki Usmaniyah adalah musuh Rusia dalam peperangan di abad XIX.
Setelah pembentukan Uni Soviet, banyak Muslim yang melarikan diri ke Latvia. Mereka yang terdiri dari beragam etnis itu dipandang sama, dianggap orang Turki. Namun di Latvia mereka aman.
Kini Latvia menjadi rumah yang nyaman bagi 10 ribu lebih Muslim. Mereka bebas menjalankan ibadah, termasuk mendirikan masjid di pusat kota.
Republik LatviaLuas: 64.589 km persegiIbu kota: RigaBahas: Lutvia, RusiaPopulasi: 2,4 juta orangAgama: Katolik, Lutheranisme, Kristen Ortodoks (mayoritas)Pendapatan perkapita: 6.760 dolar AS
Berzins, seorang penyair dan penerjemah, menggagas penerjemahan Alquran dalam bahasa Latvia dan beberapa bahasa lokal. Gagasannya itu didukung Latvijas Kulturkapitala Fonds, badan pemerintah yang menyalurkan bantuan negara bagi proyek-proyek kebudayaan.
Kebetulan, Berzins menguasai beberapa bahasa, termasuk Turki dan Arab. “Dengan penerjemahan ini, orang akan lebih bisa memahami dan melihat Islam secara jelas,” ujarnya.
Menurut dia, ajaran Alquran sangat universal dan penuh dengan ajaran-ajaran kemanusiaan. “Semua rujukan mengenai hidup bermasyarakat ada di sana,” ujarnya.
Tak lama setelah proyek penerjemahan selesai, Alquran menjadi salah satu bahan pustaka yang dicari-cari. Proyek penerjemahan itu menjadi semacam lokomotif, karena setelah itu, berbagai penerbitan ramai-ramai mencetak buku-buku keislaman dalam bahasa lokal. “Publik sangat antusias,” ujarnya.
Berkorelasi atau tidak dengan proyek Berzins itu, namun jumlah Muslim di Latvia kini terdongkrak naik. Menurut data Liga Muslim Latvia, saat ini terdapat lebih dari 10 ribu Muslim di Latvia.
Dakwah Islam digiatkan oleh Liga Muslim. Selain membagikan Alquran gratis, mereka juga membuka pintu bagi siapa saja. Kelas-kelas agama yang mereka selenggarakan selalu penuh peminat. “Mereka biasa datang dan kita berdiskusi,” ujar Saeed.
Pemerintah juga menyediakan ruang khusus di tiap instansi untuk melakukan shalat lima waktu. Begitu juga di sekolah-sekolah. “Kondisinya kini berubah 180 derajat dari saat kami masih di bawah Uni Soviet,” tambah pria yang tinggal di Riga sejak 1989 ini.
Muslim Latvia berasal dari beragam latar belakang etnis. Selain Rusia dan penduduk asli Latvia, Muslim di negara itu berasal dari Arab, Afrika, dan Asia. Mereka juga berasal dari kelas sosial yang beragam. "Islam tidak memandang ras dan kasta, begitu juga di Latvia,” ujar Mamound Saeed, pimpinan Liga Muslim Latvia.
Dagnia Kirkoz, mualaf asal Lutvia yang kini tinggal di Libanon, mengaku tercengang dengan jumlah penganut Islam di negeri asalnya. Namun ia bisa memahami. “Islam sungguh menarik. Beda dengan gambaran media mengenai agama ini, Islam sungguh penuh dengan ajaran kasih sayang,” ujarnya.
Menurut Kirkoz, Islam memberinya ketenangan psikologis, hal yang tak pernah dijumpainya selama ini. “Dalam Islam, saya bisa berkomunikasi secara intens lima kali sehari dengan Tuhan saya,” ujar wanita kelahiran Madona, sebuah kota kecil di Latvia ini.
Kirkoz mengenal Islam dua tahun lalu saat belajar di University of Latvia. Dia pertama kali tertarik dengan ajaran ketuhanan menurut Islam, selain toleransi dan tatanan sosial yang diatur dalam Alquran. “Sangat realistis,” ujarnya.
Di sisi lain, ia kagum dengan kebersahajaan rekan-rekan Muslim di kampusnya. “Di tengah kebencian media pada Islam, mereka menyikapinya dengan serius belajar, dan tersenyum pada orang yang mengejeknya,” tambahnya.
Eksis sejak 1800-an Islam pertama datang di Latvia sekitar tahun 1800-an. Mereka umumnya adalah bangsa Turki dan Tatar. Masuknya Islam ke negara itu berbarengan dengan perang Turki, yaitu Perang Krimea dan Perang Rusia-Turki pada 1877.
Di Latvia, istilah orang selatan biasanya merujuk pada orang asal Caucasus dan Tatar, kebanyakan mereka Muslim. Ada hampir 1000 Muslim Tatar di Riga pada 1890. Pihak berkuasa Latvia membenarkan sebuah kubur di Riga, bersebelahan dengan Pletenberga, sebagai kuburan Muslim tertua di negara itu.
Menurut sejarawan Vladislav Scherbeinsky, organisasi Muslim pertama berdiri tahun 1902 dan diakui oleh pemerintah Latvia. Mereka memilih Ibrahim Davidof sebagai ketua. Sebuah dewan masjid juga didirikan, kendati secara fisik tidak ada masjid yang berdiri. Mereka kemudian menyebar hingga ke Moskow.
Saat Perang Dunia I, banyak Muslim yang menetap di wilayah itu ditangkap oleh Tsar Rusia. Rezim Tsar menuding mereka sebagai antek musuh karena latar belakang asal-usul mereka dari Turki. Turki Usmaniyah adalah musuh Rusia dalam peperangan di abad XIX.
Setelah pembentukan Uni Soviet, banyak Muslim yang melarikan diri ke Latvia. Mereka yang terdiri dari beragam etnis itu dipandang sama, dianggap orang Turki. Namun di Latvia mereka aman.
Kini Latvia menjadi rumah yang nyaman bagi 10 ribu lebih Muslim. Mereka bebas menjalankan ibadah, termasuk mendirikan masjid di pusat kota.
Republik LatviaLuas: 64.589 km persegiIbu kota: RigaBahas: Lutvia, RusiaPopulasi: 2,4 juta orangAgama: Katolik, Lutheranisme, Kristen Ortodoks (mayoritas)Pendapatan perkapita: 6.760 dolar AS
(sumber : http://www.republika.co.id/)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar